EKSRESI
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIOLOGI HEWAN
Uji Kandungan Urin
Diajukan
untuk Memenuhi Salah Satu
Tugas Mata Kuliah Praktikum Fisiologi Hewan
Yang Diampu Oleh Siti Nurkamilah,
M.Pd.
Disusun oleh :
Kelompok 4
1. Rika Padilah 15542032
2. Algi Nur Iman 15543003
3. Shopa sopiyatul M 15543012
4. Dini Julianti 15544008
5. Arfah Fauziah 15544010
6. Reni Rosita 15544012
Kelas 3B/ Semester 5
FAKULTAS ILMU TERAPAN DAN SAINS
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
INSTITUT PENDIDIKAN INDONESIA (IPI)
GARUT
2018
I.
Judul
Praktikum
Eksresi
II.
Tujuan
1. Untuk mengetahui kadar Glukosa dalam urine
2. Untuk
mengetahui kadar Clorida dalam urine
3. Untuk
mengetahui kadar Amonia dalam tubuh
III.
Alat
Bahan
Alat
dan Bahan yang digunakan dalam Uji Glukosa dalam Urine
Alat
dan Bahan yang digunakan dalam Uji Clorida dalam Uerine
Alat
dan Bahan yang digunakan dalam Uji Glukosa dalam Urine
IV.
Langkah
Kerja
Uji
Glukosa dalam Urine
1.
Menyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan
2.
Memasukan 3 mL larutan Benedict’s dalam
tabung reaksi, kemudian didihkan larutan Benedict’s di atas pembakar spirtus
(tidak terlalu dekat dan gerakkan kearah samping)
3.
Menambahkan 8 tetes urine ke dalam
larutan Benedict’s yang telah di didihkan, kemudian panaskan kembali selama 1-2
menit dan biarkan hingga dingin.
4.
Mengamati adanya perubahan warna
(endapan) yang terjadi, bila :
Warna Hasil Uji Glukosa
|
Hasil Reaksi
|
Keterangan/kandungan Glukosa
|
Biru
|
-
|
Normal
|
Hijau
kekuningan keruh
|
+
|
0,5 – 1 %
|
Kuning keruh
|
++
|
1 – 1,5 %
|
Coklat,
jingga
|
+++
|
2% - 3,5%
|
Merah bata
|
++++
|
> 3,5 %
|
Uji
Clorida dalam Urine
1.
Menyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan
2.
Memasukan 5 mL urine dalam tabung
reaksi, kemudian meneteskan 2 tetes Larutan AgNO3 10%.
3.
Mengamati perubahan yang terjadi,
endapan putih menunjukan adannya clorida radikal.
Uji
Amonia dalam Urine
1.
Menyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan
2.
Memasukan 1 mL urine ke dalam tabing
reaaksi
3.
Panaskan dengan lampu spirtus.
V.
Landasan
Teori
Sistem
Eksresi
Sistem urinaria terdiri atas ginjal,
ureter, kantung kemih, dan uretra. Sistem ini membantu mempertahankan
homeostatis dengan menghasilkan urin yang merupakan hasil sisa metabolisme.
Ginjal mempertahankan urin yang merupakan hasil sisa metabolisme. Ginjal mempertahankan
susunan kimia cairan tubuh melalui beberapa proses yaitu filtrasi plasma darah
oleh glomerulus, absoprsi kembali secara selektif zat-zat seperti garam, air
gula sederhana, asam amino oleh tubulus dalam bentuk urine. Proses sereksi ini
mengiikutsertakan penahanan kalium, asam urat, amino organic, dan ion hydrogen
yang berfungsi untuk memperbaiki komponen buffer darah dan mengeluarkan zat-zat
yang mungkin terjadi.
Struktur Ginjal
Ginjal terdiri atas dua lapisan, yaitu
lapisan luar (korteks) yang mengandung jutaan alat penyaring (nefron). Setiap
nefron terdiri atas badan malpighi (renal cospuscle), tubulus kontortus
proksimal, bagian tebal dan bagian tipis lengkung henle, tubulus kontortus
distal.
Badan malpighi terdiri
atas berkas kapiler yang disebut glumerulus yang dikelilingi kapsul Bowman.
Lembaran dalam yang menutupi kapiler glomerulus dinamakan lapisan viseral,
lembaran luar membentuk batas luar tebal malpighi disebut lapissan parietal
kapsula Bowmann yang dilapisi sel epitel pipih. Antara dua lapisan terdapat
ruang kapsula yang menerima filtrat. Setiap badan malpighi mempunyai kutub
vaskuler tempat arteri aferen masuk dan arteri eferen keluar meninggalkan
glomerulus, dan kutub urinarius, tempat tubulus proksimalis dimulai. Lapisan
parietal yang berdinding selapis sel epitel pipih begitu sampai di kutub
urinaria epitel berubah menjadi epitel kubus. Lapisan viseral mengalami
modivikasi selama perkembangan embrional. Sel-sel lapisan internal dinamakan
podosid, mempunyai badan sel dimana muncul beberapa tonjolan primer. Setiap
tonjolan primer mempunyai banyak tonjolan sekunder yang menutupi kapiler
glomerulus. Tonjolan sekunder ini saling bertautan, membatasi ruang yang
membentuk celah filtrasi.
Tubulus
kontortus proksimal manusia panjangnya + 15mm, dengan diameter 55µm. Dindingnya
dibentuk oleh selapis sel tunggal kuboid yang saling menjalin satu dengan yang
lain dan disatukan oleh tautan kedap apikal. Pada apeks sel yang menghadap ke
lumen tubulus terdapat banyak mikrovili yang panjangnya 1µm , bentukan ini
dinamakan brush border (batas sikat) yang berfungsi membantu absorpsi zat-zat
(peptida, glukosa) yang keluar dari darah selama filtrasi.
Tubulus proksimal berakhir dengan
segmen tipis pars desenden lengkung henle yang mempunyai epitel sel pipih yang
tipis. Segmen tipis ini berakhir dalam segmen tebal pars asenden yang
sel-selnya berbentuk kuboid yang banyak mengandung mitokondria. Pars asenden
tebal lengkung henle mencapai glomerulus dan tubulus berdekatan dengan arteriol
aferen dan eferen, dimana dinding arteriol aferen mengandung sel
jukstaglomerulus (penskresi renin). Pada titik ini epitel tubulus dimodifikasi
membentuk makula densa. Sel jukstaglomerulus, makula densa dan sel lapis
bergrandula bersama-sama dikenal sebagai aparatus jukstaglomerulus.
Proses
pembentukan urin
1.
Filtrasi (penyaringan)
Proses filtrasi terjadi
di kapsul Bowman dan glomerulus. Dinding luar kapsul Bowman tersusun dari satu
lapis sel epitel pipih. Antara dinding luar dan dinding dalam terdapat ruang
kapsul yang berhubungan dengan lumen tubulus kontortus proksimal. Dinding dalam
kapsul Bowman tersusun dari sel-sel khusus (prodosit).
2.
Reabsorpsi (penyerapan)
Proses reabsorpsi
terjadi di tubulus kontortus proksimal, lengkung henle, dan sebagian tubulus
kontortus distal.reabsorpsi dilakukan oleh sel-sel epitel di seluruh tubulus
ginjal. Banyaknya zat yang direabsorpsi tergantung kebutuhan tubuh saat itu.
Zat-zat yang direabsorpsi adalah air, glukosa, asam amino, ion-ion Na+, K+,
Ca2+, Cl-, HCO3-, HbO42-, dan sebagian urea.
3.
Augmentasi (pengumpulan)
Urin sekunder dari tubulus distal akan turun
menuju tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul ini masih terjadi penyerapan
ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urin sesungguhnya. Dari tubulus
pengumpul, urin dibawa ke pelvis renalis, urin mengalir melalui ureter menuju
vesika urinaria (kantong kemih) yang merupakan tempat penimpanan sementara
urin.
Sifat-sifat urin
Urine
memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1.
Volume urin normal orang dewasa 600 –
2500 ml/hari, ini tergantung pada masukan air, suhu luar, makanan dan keadaan
mental/fisik individu. Produk akhir nitrogen dan kopi, teh, alkohol menpunyai
efek diuresis.
2.
Berat jenis berkisar antara 1,003 –
1,030.
3.
Reaksi urin biasanya asam dengan pH
kurang dari 6 (bekisar 4,7-8). Bila masukan protein tinggi, urin menjadi asam
sebab fosfat dan sulfat berlebihan dari hasil katabolisme protein. Keasaman
meningkat pada asidosis dan demam. Urin menjadi alkali karena perubahan urea
menjadi amonia dan kehilangan CO2 di udara. Urin menjadi alkali pada alkaliosis
seperti setelah banyak muntah.
4.
Warna urin normal adalah kuning pucat
atau ambar. Pigmen utamanya urokrom, sedikit urolobin dan hematopofirin. Pada
keadaan demam, urin berwarna kuning tua atau kecoklatan, pada penyakit hati
pigmen empedu mewarnai urin menjadi hijau, coklat, atau kuning tua. Darah
(hemoglobin) memberi warna seperti asap sampai merah pada urin. Urin sangat asam
mengendapakan garam-garam asam urat dengan warna dadu.
5.
Urin segar beraroma sesuai dengan
zat-zat yang dimakan.
Unsur-Unsur
Dalam Urin
1.
Unsur-unsur normal dalam urin.
a.
Urea (25-30 gram) merupakan hasil akhir
dari metabolisme protein pada mamalia.
b.
Amonia, pada keadaan normal terdapat
sedikit dalam urin segar. Pada penderita diabetes millitus, kandungan amonia
dalam urinnya sangat tinggi.
c.
Kreatinin dan kreatin (kreatinin :
produk pemecahan kreatin), normalnya 20-26 mg/kg pada laki-laki, dan 14-22 mg/kg
pada perempuan.
d.
Asam urat, adalah hasil akhir terpenting
oksidasi purin dalam tubuh. Asam urat sangat sukar larut dalam air, tetapi
mengendap membentuk garam-garam yang larut dengan alkali. Pengeluaran asam urat
meningkat pada penderita leukimia, penyakit hati berat.
e.
Asam amino: hanya sedikit dalam urin.
Pada penderita penyakit hati yang lanjut karena keracunan, maka jumlah asam
amino yang diekskresikan meningkat.
f.
Klorida (terutama NaCl), pengeluarannya
tergantung dari masukan.
g.
Sulfur, berasal dari protein yang
mengandung sulfur pada makanan.
h.
Fosfat di urin adalah gabungan dari
natrium dan kalium fosfat, berasal dari makanan yang mengandung protein
berikatan denagn fosfat.
i.
Oksalat dalam urin rendah. Pada
penderita hiperoksaluria jumlah oksalat relatif tinggi.
j.
Mineral: Na, Ca, K, Mg ada sedikit dalam
urin.
k.
Vitamin, hormon dan enzim dalam urin
sedikit.
2.
Unsur abnormal dalam urin.
Glukosa: glukosuria tidak tetap dapat
ditemukan setelah stress emosi (pertandingan atletik yang menegangkan), 15%
kasus glikosuria tidak karena diabetes. Galaktosuria dan laktosuria dapat
terjadi pada ibu selama kehamilan, laktasi maupun menyapih. Pentosuria terjadi
sementara sesudah makan makanan yang mengandung gula pentosa. Benda-benda keton
dapat terjadi pada saat kelaparan, diabetes, kehamilan, anestesia eter.
Terdapat bilirubin, dan adanya kandungan darah karena kerusakan pada ginjal.
VI. Hasil
Pengamatan
VII.
Pembahasan
Urine adalah salah satu hasil ekskresi dari organ
ginjal. Urine terbentuk melalui 3 tahap yaitu proses filtrasi, reabsorpsi dan
augmentasi. Setelah ketiga tahap tersebut selesai maka urine akan masuk ke pelvis
/ rongga ureter kantong urine/vesika urinaria auretra
dan selanjutnya akan dikeluarkan. Setiap hasil ekskresi yang dikeluarkan oleh
organ tertentu mengandung beberapa zat seperti keringat: air, garam, urea, dan
lain-lain. Begitu juga dengan hasil ekskresi organ ginjal yaitu urine. Untuk
mengetahui kandungan yang ada dalam urine maka dilakukan uji kandungan urine,
yaitu:
Uji
Glukosa dalam Urine
Adanya
kandungan glukosa dalam urine dapat diketahui melalui perubahan warna yang terjadi
setelah larutan benedict yang telah dipanaskan di tetesi 8 tetes urine dan
kembali dipanaskan. Apabila urine tersebut mengandung glukosa maka gula yang
mempunyai gugus aldehid atau keton bebas mereduksi ion kupri dalam suasana
alkalis menjadi kuprooksida yang tidak larut dan berwarna merah. Banyaknya
endapan merah yang terbentuk sesuai dengan kadar gula yang terdapat di dalam
urin.
Dengan
uji glukosa, juga dapat diketahui jika urine menghasilkan endapan maka orang
yang urinenya diuji menderita diabetes. Dari pengujian urine, didapatkan data bahwa
urine yang diuji tidak terbentuk endapan yang artinya urinenya yang diuji tidak
menderita diabetes.
Uji
kandungan glukosa dalam urine yang kami lakukan, dengan menambahkan 8 tetes urine
ke dalam larutan benedict yang telah diteteskan dan memanaskan hingga mendidih.
Warna awal larutan benedict biru pekat setelah ditetesi 8 tetes urine warna
biru pekat berubah sedikit memudar tidak lagi berwarna biru pekat. Kemudian
memanaskan larutan benedict yang telah ditetesi urine dan warnanya masih sama
yaitu biru pudar yang artinya urine tersebut tidak mengandung glukosa
didalamnya. Apabila sampel mengandung glukosa maka dalam suasana alkali,
glukosa mereduksi kupri menjadi kupro kemudian membentuk Cu2O yang
mengendap dan berwarna merah. Dengan tidak adanya glukosa di dalam sampel urine
yang telah kami uji maka tidak mengalami perubahan warna dan tidak menghasilkan reaksi apapun.
Dengan
tidak adanya endapan yang timbul pada pengujian ini maka sampel yang telah kami
uji dapat dikatakan bahwa tidak menderita diabetes. Salah satu faktor tidak
terjadi endapan tersebut karena sampel tersebut tidak memiliki glukosa di
dalamnya.
Pertanyaan
1.
Buatlah
siklus perubahan glukosa dalam tubuh dan jelaskan mengapa terjadi perubahan
perubhan demikian!
Ø Glukosa berasal dari pemecahan
amilum dan maltose Glukosa masuk siklus glikolisis menghasilkan asam piruvat, kemudian
masuk daur krebs dan transpor elektron untuk menghasilkan energi berupa ATP. Perubahan
ini terjadi agar glukosa mudah diserap dan memberikan energi pada tubuh. Inti
dari keseluruhan proses Glikolisis adalah untuk mengkonversi glukosa menjadi
produk akhir berupa piruvat.
2.
Bagaimanakah
jumlah glukosa dalam darah setelah beberapa saat anda makan? Nagaimanakah
hubungannya dengan kadar glukosa optimum darah?
Ø Kadar
glukosa darah meningkat seiring dengan pencernaan dan penyerapan glukosa dari
makanan, saat kita makan makanan yang mengandung karbohidrat, karbohidrat akan
diubah jadi glukosa. Untuk menjaga keoptimalan kadar glukosa dalam darah, kelebihan glukosa di dalam tubuh tersebut
akan disimpan dalam bentuk glukogen dalam hati atau otot sehingga kadar glukosa
dalam darah tetap dalam keadaan optimum. Pada individu normal, kadar glukosa
tidak lebih dari 140 mg/dl.
Uji Clorida dalam urine
Klorida adalah salah satu ion yang
penting bagi tubuh karena merupakan anion yang paling berperan dalam
mempertahankan keseimbangan elektrolit. Keberadaan klorida menunjukkan kadar pH
dalam darah. Apabila kadar klorida tinggi, maka darah terlalu asam dan dapat
mengganggu keseimbangan metabolism tubuh. Pada urine normal mengandung sedikit
klorida karena jika klorida terlalu banyak, maka akan mengakibatkan gangguan
pada ginjal misalnya pengendapan Kristal di ginjal atau sering kita sebut
sebagai batu ginjal.
Pada uji urine yang kami lakukan untuk
mengetahui kadar clorida dalam urine ini menggunakan larutan AgNO3
10%. Dengan memasukan 5 mL urine pada tabung reaksi dan menambahkan 2 tetes AgNO3
10% kemudian perubahan yang terjadi adalah warna urine yang tadinnya kuning
berubah menjadi bening sedikit keruh perubahan ini disebabkan karena urine
tersebut mengandung garam. Kemudain menghasilkan endapan putih tipis di bagian
bawah yang dihasilkan dari larutan AgNO3.
AgNO3 + Cl- → AgCl +
NO3-
Adanya kandungan clorida dalam urine
adalah hasil dari proses augmentasi akibat
kandungan NaCl yang berlebih sehingga dikeluarkan lewat urine dalam
bentuk ion Cl.
Pertanyaan
1.
Clorida
yang terdapat dalam urine berasal dari apa? Jelaskan!
Ø Kandungan
chloride dalam urin berasal dari garam-garam yang masuk ke dalam tubuh melalui
makanan yang memang terkandung klor di dalamnya. Misalnya NaCl yang kemudian
dalam cairan tubuh akan terurai menjadi ion-ion. Chloride akan selalu ada di
dalam urin seseorang hal ini karena molekul-molekul kecil seperti glukosa dan
garam mineral direabsorpsi melalui transport aktif. Kelebihan NaCl yang
dihasilkan dari proses agumentasi dikeluarkan lewat urine dalam bentuk ion Cl.
2.
Apalkah
clorida selalu terdapat dalam urine? Jelaskan!
Ø Ya,
harus. suatu urine apabila tidak mengandung klorin, maka urine tersebut
termasuk urine yang tidak normal. Klorida harus dikeluarkan dari dalam tubuh.
Karena apabila klorida berada dalam tubuh terus-menerus, maka akan terjadi
suatu penyakit. Klorida bersifat racun apabila dipendam dalam tubuh. Klorida
dikeluarkan bersama urine yang berionisasi dengan Na+. Maka dari itu, urine
rasanya asin. Selain itu juga klorida dihasilkan dari bahan makanan yang
dikonsumsi. Sehari-hari. Maka dari itu sangan kecil kemungkinan apabila urine
tidak mengandung klorida di dalamnya.
3.
Tuliskan
reaksi kimi yang terjadi pada percobaan di atas bila uji tersebut positif!
NaCl = Na + Cl–
AgNO3 + Cl- → AgCl +
NO3-
Uji Amonia dalam urine
Amoniak merupakan senyawa
kimia yang memiliki lambang NH4. bau amoniak ini sangat menyengat.
Baunya pesing, apalagi jika habis menkonsumsi jengkol, dan pete. Hal ini
dikarenakan setelah diolah maka pati jengkol tersebut akan mengkristal dan akan
dikeluarkan lagi dengan zat-zat yang tidak berguna. Sehingga dapat menyebabkan
bau yang lebih pesing.
Uji amonia ini dilakukkan
untuk membuktikan adanya urea dalam urine dan mengenal bau amoniak dari hasil
penguraian urea dalam urine. Untuk
mengetahui adanya kandungan urea pada sampel urine ini dilakukan uji amonia
dengan memasukan 1 mL urine pada tabung
reaksi kemudian memanaskan urine tersebut diatas api menggunakan pembakar
spirtus. Pada saat pemanasan agar bau amonia tercium bau amonia tersebut dengan
cara mengarahkan udara di atas tabung reaksi ke dekat hidung, bau yang tercium
tidak terlalu menyengat atau sedang yang menandakan bahwa kandungan amonia
dalam sampel urine tersebut rendah. Kemudian adanya perubahan warna, yaitu dari
warna awal kuning bening berubah menjadi bening sedikit kekuning-kuningan efek
pembakaran yang dilakukan.
Pertanyaan
1.
Berasal dari manakah amonia dalam urine tersebut?
Ø Amonia adalah hasil deaminasi asam amino yang terjadi terutama didalam hati
dan ginjal. Deaminasi adalah suatu reaksi kimiawi pada metabolisme yang
melepaskan gugus amina dari molekul senyawa asam amino, gugus amina yang
terlepas akan terkonvensi menjadi ammonia.
2.
Enzim apa saja yang berkerja?
Ø Enzim yang bekerja yaitu enzim glutaminase mengubah glutamin menjadi asam
glutamat.
VIII. Kesimpulan
Dari
ketiga uji yang telah kami lakukan maka dapat di simpulkan sebagai berikut:
Ø
Pada uji glukosa sampel yang kami uji bahwa
tidak adanya kandungan glukosa didalamnya dibuktikan dengan tidak adanya
perubahan warna pada larutan benedic’ dan urine ssetelah dilakukan pemanasan.
Tetap berwarna biru yang dapat diartikan NORMAL.
Ø
Pada uji clorida menghasilkan endapan
putih tipis dibagian bawah yang menandakan adanya kandungan garam pada sampel
urine tersebut.
Ø
Pada uji ammonia tercium bau pesing
walaupun tidak terlalu menyengat yang artinya kandungan ammonia dalam sampel
tersebut rendah.
Daftar Pustaka
[online] http://nitafakhrunnisa.blogspot.co.id/2012/11/. Diakses tanggal 19
Januari 2018
[online] https://www.scribd.com/doc/285645260/Penentuan-Kadar-Glukosa-Di-Dalam-Urin. Diakses tanggal
19 Januari 2018

Komentar
Posting Komentar